Manajemen Rumah Tangga
Ikut kelas manajemen Rumah Tangga, untuk aku yang belum berumah tangga, ini bukan sekedar ingin memenuhi rasa penasaran saja, tapi juga untuk belajar. Ilmu baru, semoga Allah berikan kesempatan segera menerapkannya.
Kelasnya mba Deasi Srihandi, satu bulan penuh ini, masih berjalan. Suatu hari, akun Instagram Deasisrihandi muncul di beranda, aku baca dan tertarik begitu saja. Meninggalkan suka sebagai rekam jejak digital, akhirnya membuat postingan mba Deasi lebih sering muncul. Sampai di buka kelas Manajemen Rumah Tangga ini, dan kuputuskam untuk ikut.
Menyenangkan sekali melihat bagaimana mba Deasi melakukan manajemen kerumahtanggaan dengan baik, plan A, plan B dan semua kemungkinan coba di prediksi dan di kelola. Dengan begitu berbagai mba Deasi berbagi ilmu tentang pengalamannya bersama 10 anggota keluarga lainnya, dalam urusan rumah tangga.
Tadinya kupikir kelas ini akan sangat rasional dan kaku, sebagai manajemen perusahaan yang membosankan. Tapi diluar dugaan, mba Deasi memulainya dengan tema kelas yang menyejukkan hati 'merenggut kembali kewarasanmu'.
Baiklah, dalam keluarga, --bahkan aku yang masih tinggal bersama orang tua. Melihat dan menyaksikan secara nyata-- berlangsungnya kerumahtanggaan memang benar-benar menguras energi fisik juga mental. Tak salah jika banyak perempuan, istri, ibu yang merasa lelah menjalani rutinitasnya, emosional dan bahkan jenuh akan aktivitas harian yang monoton. Itu wajar terjadi, sangat manusiawi dan semua orang pernah mengalaminya. Tidak masalah. Tugas kita adalah berusaha sesegera mungkin untuk berpindah dari situasi tersebut dan mengembalikan 'kewarasan' diri. Agar jalannya kerumahtanggaan bisa kembali normal.
Mengapa perlu melakukan manajemen Rumah Tangga? Dari 12 sesi kelas yang sudah berlangsung, kupikir alasannya sederhana, 'persiapan yang baik untuk hasil yang lebih baik'. Bukankah itu yang biasa kita lakukan saat di sekolah, di keorganisasian, di pekerjaan? Lalu mengapa di aktivitas kerumahtanggaan yang notabene lebih penting di atas itu semua malah kita hanya menaruh sebagian kecil saja perhatian untuknya?
Kadang kita perlu diingatkan agar paham, agar berubah. Pun demikian, banyak dari kita perlu melihat contoh nyata sebuah sistem yang berjalan baik dan berhasil, baru kemudian memutuskan untuk ikut melakukan. Begitulah klise kehidupan kebanyakan dari kita, aku juga.
Mba Deasi menyadarkan, sesadar-sadarnya
bahwa tugas rumah tangga bukan cuma tanggung jawab ibu. Semua anggota keluarga punya peran, dan kewajiban menopangnya.
Bukan hanya perihal meringankan beban si ibu, tapi karena mendidik anak melalui tugas rumah adalah pembelajaran yang konkrit, dalam banyak hal. Anak bisa belajar disiplin, bertanggung jawab, konsisten, tanggung dan sebagainya. Bonusnya, tentu ibu juga merasa lebih baik karena tidak merasa sendirian menggerakkan roda kerumahtanggaan. Toh, seorang ibu juga punya hak atas dirinya selain mengurusi urusan rumah.
Sebuah pembuka saja, nanti jika lebih banyak yang kudapat dari kelas ini, semoga aku bisa membagikannya lagi. Semoga Allah mudahkan kita semua menjalankan tugas istimewa dan penting ini. Sebagai bentuk ikhtiar menuju surgaNya.
Oh, ada satu hal yang belum Kusampaikan. Melihat betapa pentingnya tugas seorang perempuan di rumah. Plis, semua anggota keluarga lainnya bisa memberikan support. Berikan perhatian dan cinta untuk perempuanmu, terutama para suami.



Masya Allah
ReplyDelete