Aceh Peace Camp 2021
Bertandang untuk pertama kalinya ke sekretariat Rumah Relawan Remaja, Menarik. Mungkin itu kata yang bisa mewakili pandangan mataku. Bangunan tiga lantai, dengan mural cantik di beberapa dindingnya yang menyuarakan isu lingkungan. Sisa bangunan dari kayu dibiarkan natural seadanya tanpa cat. Dikesempatan berikutnya aku semakin terkesan dan jatuh hati, rumah ini dipenuhi komitmen tinggi dari tiap penghuninya untuk hidup sederhana, sehat jasmani dan rohani, kesetaraan gender -- sesuai porsinya--, juga gerakan minim sampah. Di sini kamu tidak akan menemukan tempat sampah, sebab sampah organik akan langsung dibuang ditempat pembuangan, dan sampah anorganik di cacah untuk ecobrik. Mengesankan, dengan kesungguhan hati semua dijaga dengan baik.
Ini kunjungan istimewa buatku, karena sejak mengenal 3R (Rumah Relawan Remaja) beberapa tahun lalu, akhirnya dikesempatan ini aku bisa ikut jadi bagian dari kegiatan mereka, Aceh Peace Camp 2021. Agenda rutin tahunan 3R kali ini dilakukan di tiga tempat, sebagai penempatan bagi peserta Peace Camp. Sarah Baru di Aceh Selatan, Baling Karang di Aceh Tamiang dan Lapeng di Pulau Aceh. Ketiganya adalah desa yang sudah menjadi bagian dari kunjungan rutin 3R dalam program 'Guru Impian'. Ketiga desa ini sungguh menarik pula, dan aku harus memilih satu diantaranya, sama seperti peserta yang lain. Setelah timbang menimbang dan melihat cuplikan kegiatan Peace Camp tahun lalu, Aku putuskan memilih Sarah Baru, pun perjalan ke Selatan Aceh memang belum pernah kulakukan sebelumnya. Sungguh aku ingin sekali ke sana.
![]() |
| Sekretariat Rumah Relawan Remaja |
Dua belas jam perjalanan darat dari Banda Aceh, ditambah tiga jam penyeberangan menggunakan 'stempel', sebutan untuk angkutan air berupa perahu mesin dengan 3-5 penumpang dan barang. Mengesankan sekali menyusuri sungai, dengan bentangan hutan kawasan Ekosistem Louser. Bunyi mesin stempel bergeretak menemani perjalanan. Sesekali tampak moyet melompat dari pohon ke pohon. Langit biru cerah, dengan awan-awan putih bersih. Tampaknya semesta sedang bersuka cita, sama seperti hati, yang juga ikut larut di dalamnya.
Tempat penempatan ini spesial bagiku, karena pertama, tidak akan ada jaringan telepon yang bisa di akses, apalagi jaringan internet, sebuah tantangan yang menarik. Kedua, sudah pasti tidak ada bilik kamar mandi nyaman atau kakus memadai untuk buang hajat, hanya ada sungai yang mengalir. Ketiga, aku merasa senang bisa mencoba naik transportasi 'stempel' ini. Satu-satunya akses menuju desa Sarah Baru, di Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan.
Setengah lima, petang. Dermaga Mini Sarah Baru menyambut kedatangan kami. Rumah panggung yang akan menjadi tempat tinggal kami berada tepat di belakang dermaga, dengan warna-warninya seolah mewakili berjuta rasa juga tanya yang ada di hati, apa yang akan aku temukan di sini? Apa yang sebenarnya aku harapkan dari perjalanan ini?
![]() |
| Dermaga Mini |
Bertemu orang-orang baru, situasi dan kondisi baru, cerita-cerita baru, dan begitu banyak rasa-rasa baru yang akhirnya kudapat, hingga sulit diungkapkan dengan kata. Ini seperti meneguk air dingin ditengah dahaga, melegakan jiwa dan raga. Isi kepala dicuci bersih, kotoran dan toxic dikeluarkan, berganti dengan pandangan baru yang menyegarkan tentang kehidupan. Sebuah kesederhanaan penuh cinta, tak ada keserakahan, jauh dari kesombongan, dan begitu lekat dalam semangat gotong royong. Kehidupan yang damai, aku melihatnya di sini. Masyarakat hidup selaras dengan alam, hukum-hukum adat turut menjaganya.
Membersamai anak-anak di kampung Sarah Baru, tentu juga teramat istimewa, mereka menunjukkan cinta dengan caranya sendiri. Tiap pagi, akan ada suara yang memanggil satu persatu nama relawan Peace Camp. Bersebab rumah singgah kami dekat dengan pemandian umum, sebelum dan sesudah dari pemandian, siapapun yang melihat kami, biasanya akan dengan ringan memanggil dan menyapa. Dari jauh, dengan suara nyaringnya. Tak jarang juga kami mendapat hantaran buah dari anak-anak, seberapa dapatnya saja, sambil lewat akan mereka berikan. Durian, pisang, manggis, pepaya, juga rambutan. Walau dengan beragam tingkah usil dan keras kepalanya, anak-anak ini selalu berhasil menyampaikan cinta di sorot matanya.
![]() |
| Menyenangkan membersamai anak-anak |
Oh. Seperti tak akan habis kata untuk menyampaikan rasa yang tumbuh di sebuah desa nun di Selatan Aceh. Pengalaman yang tak mungkin terlupakan. Terimakasih banyak untuk 3R yang memberikan aku kesempatan untuk dapat menginjakkan kaki di Sarah Baru, tempat yang tak pernah kubayangkan akan masuk dalam kisah hidupku. Teman-teman satu tim yang menyenangkan dan penerimaan masyarakat kampung yang luar biasa. Tentu ini tidak terlepas dari citra yang telah dibangun 3R, sehingga kamipun dapat merasakannya dalam kunjungan singkat ini.
Semoga 3R terus dapat membuka kesempatan bagi kita semua, generasi muda Aceh khususnya, untuk melihat Aceh lebih dalam. Merasakan dan menjadi bagian dari sisi lain kehidupan, hingga paham bahwa, ada begitu banyak pilihan dalam hidup. Bukan sekedar mengikuti cara instan yang banyak dipilih namun sarat akan keserakahan dan kesombongan. Hidup sederhana itu bukan hanya keterpaksaan, tapi juga pilihan yang bijak dan berakal. Mungkin hanya mereka yang berani yang siap mengambil jalan ini.
Seperti sebuah ungkapan yang begitu lekat bergeming di kepala,
"Kita melihat dan berkunjung ke desa bukan untuk sekedar merasa tertarik, kemudian mengekspose mereka untuk pajangan di media sosial. Selayaknya kita melihat dan merasakan, kemudian paham, bahwa kita juga punya pilihan untuk menentukan kehidupan yang lebih baik, dimanapun kita berada"
Ungkapan bang Romi, Penanggung jawab Rumah Relawan Remaja, dipenutup Aceh Peace Camp 2021.
Hari-hari yang panjang, mengisi penuh ransel kehidupan ini. Sebagai bekal untuk jalan di depan yang penuh dengan rupa-rupa pilihan.
Sampai bertemu kembali, sungguh aku berharap bisa punya kesempatan bersama kembali, 3R.
![]() |
| Tim Sarah Baru |







Luar biasa,, sampai jumpa kembali..
ReplyDeleteInsyaAllah, sampai bertemu kembali 'unknown' 😀
Delete