Sebab ini cinta
Sudah cukup lama, aku teringat seorang kakak yang berencana (mungkin saat ini sudah terbentuk) membuat komunitas orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Berdegup jantungku mendengarnya. Menjadi orang tua dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus tentu berat, aku pernah masuk SLB dulu sekali. Saat masih kuliah sepertinya, ditugaskan mengambil gambar untuk beberapa artikel. Dengan waktu singkat yang aku punya, ada kesan mendalam yang bahkan sampai hari ini masih tersimpan di hati, 'sungguh luar biasa mereka yang mampu melayani anak-anak spesial ini.'
Minggu pagi di kebun kopi, meneguk kopi bersama teman-teman yang sebagian besarnya belum kukenal. Diskusi-diskusi kecil, berlanjut sampai penghujung hari. Lelah, kemudian kita menyempatkan diri saling bersapa dan berbincang diluar topik berat di atas meja sedari pagi. Berkenalan dengan kamu, gadis manis yang matanya menggoreskan semangat juga rasa percaya diri tinggi. Aku bisa pastikan kamu masuk kategori mahasiswa teladan dan juga aktivis di kampus. Setidaknya terlihat demikian.
Kita mengantri di kamar mandi wanita. Lewat ashar waktu itu, kemudian melanjutkan perbincangan sebelumnya. Dari sana aku tahu bahwa kamu adalah salah seorang pengajar di Sekolah Luar Biasa pada salah satu kecamatan nun di sana. Aku hanya sesekali ke sana, pun kondisi jalan saat ini tidak juga menjadi lebih mulus, lebar badan jalan yang akan membuat mobil berpapasan mengalami kesulitan. Kamu sampaikan itu kepadaku. Kampungmu, tempat di mana kamu lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang hangat. Aku yakin orang tuamu begitu menyayangi anak perempuannya yang pintar dan cantik seperti kamu, sebab kamu punya tutur dan pekerti yang baik pula.
Tak perlu aku bertanya mengapa? Sebab ekspresiku mungkin sudah sangat mewakili pertanyaan barusan. Kamu terus memaparkan pandanganmu, aku terkesima.
Ada poin yang kemudian membuatku terenyuh, di lingkungan masyarakat kita yang penuh dengan adat dan rasa malu (sumang), kamu sampaikan bahwa beberapa anak didikmu ternyata adalah mereka yang dibuang oleh orang tuanya. Aku menangis dalam hati, tercabik nurani. Bagaimana bisa? Begitulah peliknya masalah sosial di sekitar kita saat ini.
"Belum lama mengajar di sana, tapi banyak hal yang berubah dalam diriku, kak. Tidak lagi egois, tidak tempramen dan lebih banyak beryukur dalam hidup." Kamu tersenyum dan melanjutkan, "kadang aku sering menangis sendiri di sudut kelas melihat bagaimana anak-anak ini begitu kuat, sedang kau masih sering mengeluh dengan hal-hal kecil dalam hidup."
Ya, anak-anak polos dengan ketidak sempurnaan mereka, baik fisik maupun mental, yang setiap hari berjuang dan tetap tersenyum menjalani hidup, apaka patut kita yang lenih baik kondisinya ini terlalu banyak mengeluh? Aku setuju. Tentu haruslah jadi lebih banyak syukur kita atas luasnya nikmat Allah.
Aku melihat ada cinta di sana, hati yang terpaut pada keindahan melayani mereka yang istimewa. Kamu tahu, hanya yang istimewa terunutk yang istimewa. Bagiku kamu pun istimewa Ni, sebab saat mereka yang seusiamu sibuk membangun karir dengan mencari pekerjaan menantang di luar sana, kamu memilih mengabdiakan diri di tempat luar biasa ini. Dan dengan bangga menceritakan pada dunia bahwa kamu ada di sana, mengambil peran yang tak menarik di mata banyak orang. Sebab kutahu kamu punya kesempatan besar di luar ini, tapi kamu memilih berada di sana karena sebuah alasan.
Kusebut ini CINTA, sebab cinta selalu punya alasan untuk memberi.
Sepertinya aku perlu berkunjung ke sekolahmu. Aku berharap ada hal yang bisa aku bagi pula di sana, meski tak setiap hari seperti yang kamu lakukan. Lebih dari itu, aku berharap bisa mendapatkan energi, pengisi jiwa. Dan untuk kakakku yang juga kuceritakan di awal, kamu mengingatkanku kembali untuk menyapanya, Ni. Menanyakan kabar dan mendengarkan ceritanya bersama ibu-ibu hebat itu, akan kulakukan segera. Oh, apa sebaiknya kukenalkan pula kamu padanya? Dua perempuan hebat dengan ketertarikan yang sama. Kalian luar biasa.



Comments
Post a Comment