Merawat rindu
Dibanyak waktu yang belakangan ini kupunya untuk bisa bicara lebih banyak pada diri. Ada satu hal yang kemudian kusadari, tentang rindu yang menguap bersama kesibukan yang tak pernah selesai. Hampir hilang, hanya menyisakan secuil rasa. Aku terkejut, terlalu lambat menyadari semua ini. Tak ingin kehilangan lebih dalam, aku.
Pernah, rindu berada dipuncak peraduannya. Seolah tak lagi mampu raga menahan temu. Tiap hari dalam doa terucap keinginan membayar rindu. Tak peduli cara, kapan, bagaimana, rindu buat logika buta. Teramat jauh jarak, juga harga yang harus dibayar untuk menuntaskan rindu. Bukan surut, semakin kuat tekat dibulatkan. Banyak kisah tentang cinta yang tak biasa, kuharap aku punya kesempatan menyicipnya.
Melihat, mendengar, membaca, semua inderaku sudah terpaut, tertuju pada satu nama. Rindu ini benarlah harus segera dituntaskan.
Sayangnya itu dulu, di waktu yang lalu. Hari ini aku menatap diri dari sisi berbeda. Tampak siperindu yang kalah, semakin jauh berpisah, berpikir untuk menyerah. Menyedihkan sekali.
Kita harus memulainya dari awal, lagi.
Menyusun cinta demi membangun rindu.
Kita mulai lagi, dari awal. Bahwa rindu ini teramat berharga untuk terus dijaga.
Kita selayaknya mesti memulainya kembali, tak apa dari awal.
Kuingin pondasinya lebih kuat dari sebelumnya.
Izinkan kami ya Allah, bisa sampai di tempat nan suci di bumiMu 😇



Aamiin
ReplyDeleteAllahuma Aamiin 😇
Delete