Ngopi Aren; ya di Bukit Cinta
Saat ini kopi telah menjadi lifestyle yang tak memandang usia dan waktu. Pagi, siang, malam, cairan cafein ini setia menemani. Baik mereka yang masih remaja, dewasa sampai tetua kita juga terpikat, bahkan tanpa pandang gender, perempuan maupun laki-laki tersapu rata oleh budaya minum kopi (Ngopi).
Merebaknya budaya ngopi ini juga diikuti dengan semakin membanjirnya warung kopi di hampir setiap kota di Indonesia, tak terkecuali Aceh. Di Aceh sendiri, begitu mudah kita menemukan warung-warung kopi yang menjamur di pinggiran jalan.
Persaingan yang pesat ini memaksa para pengusaha Warkop untuk semakin kreatif dalam menciptakan inovasi baru untuk menarik pelanggan, berbagai konsep tempat, fasilitas dan jenis kopi yang ditawarkan pun lahir.
Begitu juga dengan penyajian kopinya sendiri, maka mulai terdengar nama-nama kopi yang aneh; kopi Tubruk, kopi Joss, kopi Bandrek, kopi Aren dan lain sebagainya.
Untuk jenis kopi yang terakhir yaitu kopi Aren, seperti namanya kopi ini memang menggunakan aren sebagai pemanisnya. Mungkin kita akan berfikir bahwa kopi panas ini akan ditambahkan gula aren. Hal tersebut mungkin biasa, lain halnya dengan kopi Aren yang ditambahkan dengan air nira atau aren yang dididihkan kemudian dicampurkan dengan bubuk kopi kemudian diseduh menjadi kopi aren dan siap dinikmati.
Kita dapat menemukan jenis kopi tersebut di Negeri Lembah Alas atau Kutacane, Aceh Tenggara, dengan tempat yang tidak biasa juga yaitu di Bukit Cinta nama tempatnya.
Menurut warga di Kutacane, Bukit cinta merupakan sebuah tempat nongkrong bagi kaula muda di Kutacane sejak tiga tahun yang lalu, terutama bagi kalangan remaja bahkan keluarga yang ingin bersantai.
Nama Bukit Cinta tersebut sangat dikenal oleh kaum muda-mudi di Kutacane. Mungkin dengan seringnya kaum muda-mudi yang ramai mengunjungi tempat tersebut untuk menikmati kopi Aren sambil menikmati suasana alam yang indah dari atas sebuah bukit maka lahirlah sebutan Bukit Cinta, terang Khairul salah satu teman saya di Kutacane.
Untuk menuju ke tempat tersebut hanya butuh waktu 10 sampai 15 menit saja dengan menggunakan kendaraan bermotor dari pusat Kota Kutacane. Bukit Cinta berada di Desa Mbarung, Kutacane, Aceh tenggara. Di desa tersebut terlihat berjejer warung kopi yang menyediakan pondok-pondok kecil denganview Sungai Alas dan Kutacane dari ketinggian.
_walau cuaca berkabut, tapi tetap indah_
Keunggulan lainnya, kopi Aren menghasilkan kopi dengan kandungan gula yang rendah. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Rehan Abdullah “Kopi dengan kandungan aren kaya zat besi dan rendah glikemiks sehingga tidak menyebabkan kadar gula meningkat, sehingga cocok bagi penderita diabetes.
_kopi aren, pilihan untuk menghangatkan suasana_
Minuman kopi aren di Bukit Cinta dapat dinikmati dalam beberapa varian dengan harga bervariasi pula dan terjangkau mulai dari Kopi Aren seharga Rp 4.000 hingga Rp 6.000.
Bukit Cinta mulai ramai dipadati para pengunjung pada pukul 15.30 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Kopi aren tersebut mulai dikenal sejak lima tahun yang lalu dan Bukit Cinta merupakan icon dari kopi aren sendiri yang aroma dan rasa arennya sangat kental terasa, jadi begitu berbeda dengan kopi lain.
Menghabiskan waktu santai bersama sahabat, keluarga dan orang terkasih memang pas di Bukit Cinta dengan ditemani hangatnya kopi aren yang nikmat. Tidak salah bila ada bahasa yang mengungkapkan bahwa belum lengkap rasanya bila berkunjung ke Kutacane bila belum ke bukit cinta untuk menikmati secangkir kopi aren dengan pemandangan Sungai Alas yang terbentang.
_nongkrong bersama sahabat di bukit cinta_


Comments
Post a Comment