Lebih dari Penikmat Kopi
Dentingan waktu di hidupku seakan berdetak dengan begitu jelas di telinga. Memastikan tiada ruang tanpa peluh. Aroma ini, aroma ini memaksa indra penciuman ku bermain dengan udara-udara yang basah. Berlari. Aku ingin mengalahkan waktu dengan kecepatan ku. Mendramatiskan bagian-bagian cerita ini dalam sebuah bingkai aksara yang indah. Memberikan ruang bagi mimpi dan harapan bermain di dalamnya. Berparade sepuasnya hingga waktu pastikan jawaban atasnya.
Hari ini hari libur dan aku memutuskan datang lebih pagi. Nafas ku terengah. Detak jantung ini yakinkan bahwa waktu untuk dunia ku masih ada. Jam di lengan kanan ku menunjukan pukul 07.30 pagi. Masih cukup pagi untuk berada disini. Embun pun masih betah mengisi sela-sela lembah. Kembali ku hirup aroma cafein ini. Kopi Arabika Gayo. Cairan hitam pekat ini memenuhi tutup termos air ku. Masih begitu hangat. Menggoda lidah.
Cukup puas untuk menikmatinya. Ku ikat Genepo* di punggung ku, sebuah tas kecil untuk menampung buah-buah kopi. Siap untuk memulai perburuan hari ini.
^ ^ ^
Ku hirup kembali aroma itu lalu menyeruputnya perlahan. Kata Cik *Iwan kopi itu mengandung Cafein. Mungkin itu sebabnya aku jadi kecanduan. Atau lebih dari itu. Sejak kecil, bahkan jauh dari ingatan kuAma selalu membagi kopinya pada ku. Pagi, siang, sore, kapan pun dia minum. Hingga saat ini, meski dia telah tenang di sana aku terus mewariskan kebiasaannya ini.
Hidup ku begitu dekat dengan kopi. Bahkan mengalir dalam tiap aliran perjalanan hidup ku. Mungkin ini pengaruh letak geografis. Aceh tengah memang merupakan Dataran Tinggi yang sesuai dengan kehendak tumbuh tanaman kopi. Tidak heran kalau kopi Gayo memeiliki kualitas dan rasa yang begitu dinikmati para Penikmat Kopi. Dataran tinggi Gayo*, biasanya disebutkan merupakan tempat kelahiran ku. Tapi kopi bagi ku lebih dari itu. Dulu kami mempunyai kebun kopi seluas 1 ha, warisan dari kakek. Aku selalu membantu Ama* menggarapnya. Hingga hari ini. Meski sekarang dengan keadaan yang sedikit berbeda. Aku berada disini sebagai Buruh pengutip kopi. Kebun ini terpaksa kami jual kepada adik ayah. Tapi aku cukup senang masih bisa terus berada diantaranya. Dan suatu hari nanti, aku pasti bisa membeli kebun ini kembali. Aku janji pada mu Ama.
^ ^ ^
Deg, sepertinya ada yang aneh dengan kopi ini. Ku teguk kembali, membiarkan lidah ku bermain dengan kehangatannya. Tetap masih terasa aneh. Seteguk lagi, ku coba untuk memastikan. Kali ini juga masih terasa berbeda. Aku melirik cik Iwan. Yang dilirik hanya tersenyum tersipu dan menikmati seruputannya. Kurasa dia punya jawaban untuk ini.
”itu kopi robusta . . . . ”
Tak cukup menjawab pertanyaan ku. Cik Iwan mengeluarkan beberapa biji kopi, daun serta buah kopi. Mengelompok-kelompokkannya dan mulai menjelaskan satu persatu. Ya, ada perbedaan berarti dari tiap sampelnya.
Cik Iwan mengajariku membandingkan kopi-kopi itu. Dari bentuk, rasa, hingga aromanya. Disinilah rutinitas baru ku dimulai. Setiap sore, aku selalu sempatkan untuk minum kopi di sini. Cik iwan seorang dosen di Universitas di kota ku. Tak kan ku siakan apa yang dia bagi pada ku. Seperti mendapatkan kursus privat.
Penikmat kopi. Ungkapan yang menarik. Cik Iwan bilang, itu ungkapan yang biasa dipakai untuk mereka yang menyukai kopi. Cukup keren kedengarannya. Apapun tentang kopi. Aku menyukainya. Di tiap bulannya, cik Iwan mendapatkan paket kiriman kopi. Dengan jenis dan rasa yang berbeda. Semua dengan ciri khasnya masing-masing.
Sekarang saatnya mencicipi. Ku coba mengulangi tiap rasanya. Berbeda, benar-benar terasa berbeda. Ku akui, ini tak semudah kelihatannya. Tapi cukup menarik. Benar-benar menikmati tiap tegukan yang berbeda. Memaksa lidahku bernegosiasi dengan cairan hitam ini, memainkan indra penciumanku untuk menggerakkan implus sarafku bekerja lebih keras. Tiap tetesnya berbeda, tiap aromanya berbeda. Menantang.
^ ^ ^
Dataran tinggi gayo. Beberapa orang menyebutnya sebagai negeri diatas awan. Dingin, tentunya. Aku mensyukuri kehidupan di sini. Diantara pohon-pohon damar dan kopi. Embun pagi tak lelah menyapa pagi di negeri ku, hingga suhu terkadang dibawah 18 derajat. Ketika kau menyentuh air di pagi hari, mungkin akan berpikir ulang untuk sekedar membasuh muka dan memilih meringkuk di dalam selimut atau berada di perapian.
Anugrah bagi kami masyarakat gayo adalah tanah subur ini. Itu adalah warisan tak ternilai. Mungkin kau akan lihatperkampungan sunyi di pagi hari. Dan mulai memuntahkan masyarakatnya ketika senja menjelang. Karena mereka akan menuju kebun untuk menggarap tanah demi memenuhi kebutuhan hidup. Tak terkecuali keluarga ku. Tanah adalah sumber kehidupan bagi kami. Dan tanah pulahlah yang menghentikan mimpi ku.
Begitu iri bagi ku melihat orang-orang dapat melanjutkan pendidikan mereka setinggi mungkin. Aku selalu ingin dapat berbuat banyak untuk tempat kelahiran ku. Dengan pendidikan pastinya. Namun dengan ilmu yang tersurat pada ijazah SMA, apalah yang dapat aku lakukan. Mimpi-mimpi itu seakan begitu sulit untuk digapai. Ikhlas. Hanya itu yang coba ku lakukan. Tuhan selalu punya rencana.
Sebagai anak sulung dikeluarga ini. Aku bertanggung jawab penuh atas Ine* dan adik-adikku setelah Ama meninggal. Ine hanya seorang petani yang sekarang menanam sayuran di tanah berukuran 5 x 8 m di belakang rumah. Adik-adikku lah yang akan menjualnya tiap pagi sebelum berangkat sekolah. Sedangkan aku. Aku dipercayakan cik Iwan untuk menggarap kebun kopinya. Hasilnya lumayan. Dan dengan itulah aku bisa menyelesaikan pendidikan SMA ku serta memenuhi kebutuhan hidup kami.
^ ^ ^
Malam itu begitu terang. Purnama bersinar penuh menerangi malam. Meski bintang tak ingin perlihatkan kerlipnya. Satu cahaya terang bulan cukup warnai langit. Aku terduduk kaku mendapati cik Iwan dan mak cik* Asih mengundang kami sekeluarga ke rumahnya. Sebenarnya ini bukan hal yang tak biasa, tapi entah mengapa malam ini terasa sedikit kaku. Ku pandangi wajah Ine. Ada senyum mahagia dalam air mata di sana. Cik Iwan memandang ku dengan tatapan yang begitu tajam. Seakan ingin meminta pertanggungjawaban atas apa yang menimpa Ine. Bingung. Antara ingin dan tidak. Apa aku bisa menerima penjelasan dari ini semua????
Kejadian malam itu seakan berlalu dengan begitu cepatnya. Mengantarkan ku di tempat ini. Aku tak bisa bayangkan apa yang sedang terjadi pada ku. Meja sepanjang delapan meter memenuhi ruangan. Ada enam gelas berisi cairan cafein di hadapan ku saat ini, dan 1 gelas air putih tentunya. Waktu ku hanya lima menit untuk bermain dengan aroma dan rasa itu. Mata ku menyelidik sekeliling. Mereka terlihat begitu percaya diri. Tekat ku tak kan mampu goyahkan langkah ini. Aku menginginkannya lebih dari siapapun.
Aku mengenakan pakaian rapi. Jas hitam bersama jelbab orange membaluti tubuhku. Saat seperti ini, selalau detakan jantung ku yang mengisi ruang waktu. Samarkan yang lainnya. Ku pertaruhkan nama Ama ku di atas sana. Semoga Allah meridhoinya. Pandangan ku menggambarkan sebuah senyuman hangat Ama bersama secangkir kopi di tangannya. Menawari ku menikmati minuman ini. Aku siap menimatinya.
^ ^ ^
Dedaunan oranye hingga merah memenuhi jalanan. Beterbangan memainkan jelbab orange ku bersama angin. Dingin. Angin membelai tubuh ku. Saat ini aku tak ingin berlari. Hanya biarkan hening habiskan waktu. Suasana ini memuncakkan kerinduan ku dihamparan merahnya biji kopi siap panen. Memacu adrenalin untuk berburu dan memenuhi ganepo ku. Berlari menikuk lembah penghidupan ku. Aku begitu senang berlari. Karena dengan berlari ku rasa aku mampu merajai waktu.
Sebuah sunggingan tergores di wajah ku. Memanaskan pelopak mata. Ku hirup panjang nafas ku. Bila mampu berlari, ku ingin berlari melewati benua dan samudra untuk segera sampai di sebuah tempat yang telah aku tinggalkan selama tiga setengah tahun ini. Merangkul hangat tubuh yang senantiasa hantunkan doa untuk ku. Membagi kisah yang tak mampu terjabarkan lewat alat elektronik tercanggih sekalipun.
Ini musim gugur. Musim yang biarkan pohon meluruhkan daunnya. Tak pernah kusangka mampu ku jerjakan kaki ku di antaranya. Merasakan dinginnya angin seperti saat pertama kali mereka menjamu ku. Namun kali ini sedikit berbeda. Aku menggenggam tiket pesawat untuk tujuan Indonesia. Dalam hitungan jam, aku akan segera berada di tempat yang benar-benar aku rindukan. Bersama orang-orang yang memberikan kesempatan bagi ku untuk merajut mimpi menjadi sebuah kenyataan.
Semua ini berkat cairan cafein itu. Yang memberikan kesempatan untuk sebuah beasiswa pendidikan ke Jepang sebagai ”Penikmat Kopi”. Cairan hitam pekat yang begitu ku sukai. Hal yang selalu meyakini ku bahwa Ama selalu ada bersama kami. Mengiringi tiap langkah ku. Hingga pastikan bahwa mimpi ini telah ku genggam.
Ipak Simutuah B.Ag.
_Auriafa lineva
Catatan :
(*)
genepo : sebuah tas kecil seperti karung sebagai tempat menampung kopi
cik : berasal dari kata Pak Cik yang berarti Paman
mak cik : istrinya pak cik yang berarti bibi
ine : ibu
ama : ayah
dataran tinggi gayo : meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten . Gayo Lues di Provinsi Acah


Comments
Post a Comment